oh lolita <3

25 Februari 2012, 06:18

Meja Makan,

telur rebus dan madu,

Aku didepan rusukmu,

bercucuran air mata.

ketika kata-katamu

yang terucap dibibirnya

menjelaskankan kebisuan antara kita

semenjak peluh

membanjiri punggung telanjangku

raut wajahmu mengisyaratkan lelah

lelah dan kecewa

lelah dan marah

lelah dan hancur

hatiku diterpa ribuan sayangmu

dan kini diiris dua butir katamu

dibuat semrawut

amburadul

kacau balau

karma, katanya.

tawanya. 

M. Syair kegembiraan dikosongnya malam, dengan sisipan huruf vokal yang takkan kutulis atas nama kepengecutanku. Lalu konsonan lembut tersisip rapi di kemudian namamu S,W dan P. Namamu membuka luka segar, meruapkan sepucuk rindu mengalir seperti sungai, mengguncang seperti ombak. Dibuka dengan bab-bab tersusun acak yang menurutku serupa bianglala, berputar naik dan turun, terus dan menerus. Ironisnya aku yang membenci kata ‘monoton’ justru melonjak kegirangan kala bianglala itu naik dan turun berulang tanpa kejenuhan.  M, huruf puitis yang senantiasa membiarkan otakku bekerja mencari bab-bab huruf A yang tampak serasi. kemudian ketika rangkaian namamu tersusun,kamu, laki-laki pendek berdagu lancip dirias kulit coklat gelap (kadang kala aku ingat akan garis tegas di tulang pipinya) selalu membuat diriku tenggelam dalam lamunan panjang yang membosankan. Lamunan samar-samar. yang kuingat jelas ada rasa tanpa sedikitpun noda hina ditiap tiap celahnya. Ya, M, kau ini penggambaran ajaib dari sebuah novel klasik karya Sir James Matthew Barrie yang telah membuat keajaiban di otak kotorku, membuat rancu yang menutupi nafsu. Rasaku padamu bukanlah sekedar nafas memburu, atau hasrat membenamkan diri dalam pelukkan , bukanpula gambaran erotis penyair terkemuka atau lukisan cabul sarat makna.Rasa ini terasa kekanak-kanakan, mungkin karena saat itu aku hanyalah bocah yang masih murni dengan kepangan di kanan kiri kepalaku dan kau masih M yang dengan lihai menawarkan mimpi di setiap senyummu. Rasa ini terkadang meluap, mendidih disetiap menitnya, meresap melalui khayal dan mimpi, menjalari indraku hingga bibirku serasa pasir. Untuk seorang normal mungkin akan dihayati sebagai sebuah sensasi murni atas nama rasa cinta, namun untuk monster kecil serupa gadis berumur 18 tahun ini rasa itu tak dapat digambarkan dengan sensasi sentuhan sentuhan tabu yang menjijikkan atau dilukiskan dengan kata-kata yang disandur dari novel novel bodoh. Namun lebih dalam, lebih dan lebih dalam berbaur dengan rasa kanak-kanak yang dibumbui hasrat kepemilikian yang kotor dan tak wajar. M, rasanya setiap senyum yang kau hadapkan padaku dapat membuat ratusan mata ditubuhku terbuka lebar, tanpa perlawanan monster kecil ini terambil alih oleh diriku yang masih murni bercampur aku yang menyimpan kebusukan disetiap relungnya. Aku tak meminta tubuhku, kulitku, diriku menyentuh kulit coklat kehitaman terbakar matahari yang cemburu, aku ingin jiwamu, rasamu menyebar dan hidup disetiap nafasku. Rasaku ini takkan kau mengerti, kegilaan semacam ini kupelajari dari tahun tahun yang kujalani dengan rasa sepi . Namun, Entah bagaimana hasratku ini takkan terwujud meski malam dan siang sirna sejalan hukum alam, karena untuk menyentuhmu saja takkan berani kulakukan, kau itu putih tanpa secercah noda dengan mata tajam terpahat indah, dan aku yang seujung kukunyapun hina, lebih pekat daripada hitam. Oh M, bayangkan saja ketika seorang aku menyentuhmu entah apa yang akan Tuhan perbuat. M, kau tahu meski rasa tak nalar ini menjalari setiap vena dan arteriku saat mengeja nama kecilmu, dan apabila huruf-hurufmu sesak berjejalan mengharap percikan api, aku memiliki ruang yang luas untukmu, lebih dari untukku dan meski kau tak menoleh oleh bisik dan hujan yang serta merta memuja perhatianmu, lalu mendung akan mengingatkanku untuk mengkisahkan konsonan M dengan fasih di dalam bukuku. Dan kemudian akan kututup semua jalan menuju tempat beradunya bianglala namamu tanpa pernah ada yang membukanya.

revisi

mary-jane sepasang.

merah mengkilat.

ukuran tiga puluh empat.

dipakai tak muat.

mary-jane sepasang.

merah mengkilat.

lebih baik kaki dikerat.

biar muat.

mary-jane sepasang.

merah mengkilat.

ukuran tiga puluh empat.

tak apa sekarat.

asal muat.

mary-jane sepasang.

merah mengkilat.

ukuran tiga puluh empat.

apa yang kau dapat?

pedih atau nikmat?

Sebentar lagi 2 orang dari kita akan melepas 1 tahun mereka untuk Tuhan. Iya, aku bahagia tapi ini tahun 2012, tahun dimana aku mulai takut dengan pertambahan umur.

Bukannya aku membencinya, aku suka. Sayangnya tahun yang semena-mena bertambah membuat rumah kita sepi. Dan ini yang membuatku takut. Yang membuatku menyadari bahwa semakin dewasa kesempatan kita bertatap muka makin berkurang. Semakin dewasa jarak diantara kita bertambah.

Pertemuan dan Perpisahan itu bagian dari hidup yang paling aku hayati, tanpa kalian menjelaskan panjang lebar, aku sudah mengerti, meskipun kadang aku tak mau mengerti. Dulu kita berjalan berdampingan, dan kalian mulai mempercepat langkah, berlari satu persatu,aku tertinggal.Sampai saat ini aku masih disini, diambang pintu, sebentar lagi akan mengikuti kalian. Dan memberikan perasaan yang aku benci kepada 2 orang yang tersisa dirumah kita. Perasaan ditinggalkan, bahagia, terharu, bangga, sepi. Ya, sepi. Pembicaraan masa depan di kursi ruang keluarga tak pernah lepas dari kata “sepi” diucapkan dengan senyum dan tawa tanpa penekanan berarti. Mereka yang tertawa, yang serba salah itu aku, anak mereka. Aku memahami makna ditinggalkan tapi aku belum benar-benar memahami makna meninggalkan.

Kata Mas Sindhu dewasa itu pilihan, dan sekarang aku memilih untuk tidak dewasa, memilih untuk egois dengan menulis ini, membebani kalian dengan perasaan ingin pulang. Aku tak menyesal, karena memang aku sangat ingin bertemu kalian, berkumpul berempat, biasanya saat menjelang 2 hari itu kita sedang berdiskusi tentang apa dan bagaimana merayakan umur-umur yang kita kembalikan pada Tuhan. Dan kini aku makin memahami keterkaitan antara umur, jarak, dan waktu. Tahun ini kita tetap berdiskusi lewat telepon genggam yang aku syukuri sebelumnya karena mempersempit jarak kita, namun kini rasanya hanya mendengar suara dan mengetik pesan pesan singkat malah jauh lebih sepi. jauh lebih terasa tak bermakna. Jarak sekian kilometer dan sekian jam untuk ditempuh, dan rasa ingin bertemu dipaksakan dalam bentuk pesan-pesan dan tulisan tulisan yang tak ada harganya dibanding tatap muka. Bagiku bukan begitu caranya mengatasi rasa ingin bertemu.Aku menghargai jarak dan waktu yang membuat pesan pesanku takkan sering ada di telepon genggam kalian, karena bagiku dengan melakukan hal yang tak menghargai si Alexander Graham Bell itu, aku menghargai sebuah jarak dan waktu dan ikatan kita. Biar saja sesak, biar saja sepi. nanti pastinya ketika bertemu perasaan yang tersampaikan akan menjadi jauh lebih berharga.

Aku menggunakan media ini (mengingat handphone sialanku malah wafat di umur 1 tahun -_-) untuk membagi kekanak-kanakanku, dan kelancanganku pada kalian. Sungguh saat ini disaat momen momen 7 Februari, 11 Februari, 31 Maret, 4 April, 20 Oktober, dan 27 November aku berharap kalian ada disini, berkumpul, bermain hal-hal aneh, menonton film, memanggang kue, atau sekedar berbincang hingga dini hari. Karena hanya dengan melihat kalian, membagi rasa takut ini, kupikir aku bisa mulai belajar ikhlas tentang pertambahan umur dan jarak kita, sekaligus belajar untuk meninggalkan dan ditinggalkan karena kelak aku pasti akan menjadi seperti kalian, meninggalkan rumah. Lalu dengan kelancanganku sebagai anak terakhir biarkan aku menuliskan ini :  ayo pulang, aku menunggu kalian :)

— Chris, Skins series 2 episode 5 (via wishballoons)

                                                     my bedrooom, 24th May 2012 

    dear you,

I can tell that my love for you is growing stronger and stronger as I try to forget you. This unbearable feeling for you living in my heart, yet in your head, this feeling is nothing but something laughable. little did I know about how to erase your name from my heart which is already turned into pieces. You’re fine, and I’m a mess. So, my dear let me speak some words for you :

                             FUCK YOU, HAVE A GOOD LIFE. 



                                                                   with all my love,                               

                                                                            me

disini aku memendam rasa untuk mengulang tanya yang tak kunjung dijawabnya.

“ijinkan aku menangis untukmu, mata.”

kamu mencari air mata. 

matamu kering, menangis tak bisa.

ditiap sudut hatimu yang terluka.

kamu tetap mencari air mata.

dengan tawa.